Indonesia Investigasi
ACEH UTARA|Indonesianivestigasi — Pelabuhan Umum Krueng Geukueh kembali memainkan peran strategisnya dalam mendukung perdagangan internasional Aceh. Melalui fasilitas pelabuhan ini, sebanyak 11.490 metrik ton minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) asal Aceh diekspor ke pasar global, menandai kesinambungan aktivitas ekonomi daerah sekaligus penguatan posisi Aceh dalam rantai perdagangan internasional.
Ekspor tersebut terbagi dalam dua kapal,kapal yang pertama Yong Sheng You 36 dengan muatan, 7.300 MT, dan kapal kedua Stolt Sea, dengan muatan 4.190 MT. Seluruh proses pengapalan dijadwalkan selesai pada Selasa dini hari, 10 Februari 2026, pukul 02.00 WIB, sebelum kapal diberangkatkan menuju India.
Sebagai operator pelabuhan, PT Pelindo SPMT Branch Lhokseumawe memastikan seluruh rangkaian kegiatan bongkar muat berjalan aman, efisien, dan sesuai standar internasional. Proses ini dilakukan melalui kolaborasi aktif dengan PT Aceh Makmur Bersama (AMB).selaku pemilik barang, dengan dukungan penuh tenaga kerja lokal yang menjadi bagian penting dari ekosistem kepelabuhanan Aceh.
Branch Manager Pelindo SPMT Branch Lhokseumawe, Aulia Rahman menyatakan bahwa ekspor CPO ini mencerminkan kekuatan Aceh sebagai daerah penghasil komoditas unggulan yang mampu bersaing di pasar global.
“Ekspor CPO asal Aceh menunjukkan bahwa daerah ini memiliki potensi besar dalam perdagangan internasional. Kualitas dan kemurnian CPO Aceh menjadi nilai tambah yang diakui pasar. Pelindo berkomitmen memberikan layanan operasional 24 jam penuh agar proses pengapalan berjalan lancar, tepat waktu, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dari sisi pelaku usaha, Site Manager PT Aceh Makmur Bersama,Tarmizi, menegaskan bahwa keberhasilan ekspor ini tidak terlepas dari peran masyarakat Aceh, khususnya para petani sawit.
“Kami memandang ekspor ini sebagai kerja bersama. Produk yang kami kirim ke pasar internasional berasal dari hasil bumi Aceh dan kerja keras masyarakatnya. Dengan menjaga kualitas dan kesinambungan ekspor, kami berharap manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas, terutama oleh petani sawit,” katanya.
Sementara itu, Deputy Branch Manager Operasi dan Teknik Pelindo SPMT Branch Lhokseumawe, Taufik Rahmat Nasution, menekankan kesiapan infrastruktur dan layanan pelabuhan dalam mendukung ekspor komoditas strategis.
“Pengapalan CPO dilakukan dengan metode pipe to pipe dari fasilitas pipa langsung ke kapal tanker, sehingga efisiensi dan aspek keselamatan dapat terjaga. Pelabuhan Krueng Geukueh siap menjadi gerbang maritim bagi ekspor komoditas unggulan Aceh lainnya, sekaligus memperluas peran Aceh dalam jalur perdagangan internasional,” ujarnya.
Melalui ekspor CPO ini, Pelabuhan Krueng Geukueh kembali menegaskan fungsinya sebagai penghubung antara potensi lokal Aceh dan kebutuhan pasar global. Di balik angka ekspor, terdapat kerja kolektif antara operator pelabuhan, pelaku usaha, dan masyarakat—sebuah upaya bersama untuk memastikan Aceh terus melangkah maju sebagai bagian penting dari peta perdagangan dunia.
Pewarta : bung jal.







