Indonesiainvestigasi.com
Labuhanbatu – Sumatera Utara –Nama Ned alias Nedi (42), warga Desa Gunung Selamat, Kecamatan Bilah Hulu, Kabupaten Labuhanbatu, kini menjadi sorotan tajam di tengah masyarakat. Ia diduga terkait dengan maraknya peredaran narkotika jenis sabu di wilayah tersebut—sebuah persoalan yang disebut warga kian menggerus ketenangan desa dan mengancam masa depan generasi muda.
Sejumlah warga yang ditemui secara terpisah mengungkapkan keresahan yang semakin sulit dibendung. Mereka menilai aktivitas yang diduga berkaitan dengan Nedi bukanlah hal baru, melainkan telah berlangsung cukup lama. Yang paling mencolok, menurut mereka, adalah kesan bahwa pergerakan sosok tersebut seolah bebas tanpa hambatan berarti.
“Mau dibilang apa lagi bang, seperti kebal hukum. Kami ini masyarakat kecil cuma bisa lihat dan khawatir. Takut juga bicara terlalu banyak,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan, Minggu (03/05/2026).
Pernyataan serupa datang dari warga lainnya yang menggambarkan perubahan suasana desa dalam beberapa waktu terakhir. Desa Gunung Selamat yang sebelumnya dikenal relatif aman dan tenang, kini disebut mulai dibayangi oleh aktivitas yang diduga berkaitan dengan peredaran narkoba.
Orang tua di desa tersebut mengaku semakin cemas terhadap pergaulan anak-anak mereka. Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan—peredaran narkotika, khususnya sabu, dinilai memiliki dampak destruktif yang cepat dan luas.
“Kami takut anak-anak kami ikut terjerumus. Sekarang ini pergaulan sudah susah dikontrol. Kalau memang benar ada peredaran seperti itu, harus segera dihentikan,” ungkap seorang ibu rumah tangga dengan nada gelisah.
Keresahan ini tidak hanya bergema di kalangan masyarakat umum. Suara kritis juga datang dari kalangan pemuda dan mahasiswa. Idris Siregar, seorang mahasiswa yang mengaku aktif mengamati persoalan sosial di daerahnya, menegaskan pentingnya respons cepat dari aparat penegak hukum.
Menurutnya, jika dugaan yang beredar di tengah masyarakat memiliki dasar, maka tidak ada alasan bagi aparat untuk menunda tindakan.
“Kalau ini benar, maka ini bukan lagi masalah kecil. Ini soal masa depan generasi muda. Kami minta aparat penegak hukum, khususnya di wilayah Bilah Hulu, segera bertindak tegas. Jangan sampai masyarakat kehilangan kepercayaan,” tegas Idris.
Ia juga menambahkan bahwa pembiaran terhadap dugaan aktivitas ilegal seperti ini berpotensi memperburuk situasi sosial, sekaligus menimbulkan persepsi negatif terhadap institusi penegak hukum.
Hingga berita ini disusun, belum terdapat keterangan resmi dari pihak kepolisian setempat terkait dugaan yang menyeret nama Nedi. Belum ada konfirmasi, klarifikasi, maupun bantahan dari pihak yang bersangkutan.
Oleh karena itu, seluruh informasi yang berkembang masih berada pada ranah dugaan dan keterangan warga.
Meski demikian, tekanan publik terus menguat. Warga berharap aparat segera melakukan penyelidikan yang transparan dan profesional untuk memastikan kebenaran informasi yang beredar.
Lebih jauh, masyarakat menaruh harapan besar agar penegakan hukum dapat berjalan adil dan tidak tebang pilih.
“Kami hanya ingin hukum benar-benar ditegakkan. Jangan sampai tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas,” kata seorang tokoh masyarakat setempat.
Situasi ini menjadi ujian serius bagi aparat penegak hukum di wilayah Labuhanbatu. Di satu sisi, ada tuntutan masyarakat yang mendesak kejelasan dan tindakan nyata. Di sisi lain, diperlukan kehati-hatian agar proses hukum berjalan berdasarkan bukti yang kuat, bukan sekadar opini publik.
Apakah dugaan “kebal hukum” yang dilekatkan oleh warga akan terbukti, atau justru terpatahkan oleh proses hukum yang transparan dan akuntabel—semuanya kini bergantung pada langkah aparat ke depan.
Yang jelas, bagi warga Desa Gunung Selamat, persoalan ini bukan sekadar isu. Ini adalah kegelisahan nyata tentang masa depan lingkungan mereka—dan tentang generasi yang sedang tumbuh di dalamnya.
Penulis : Chairul Ritonga







