Indonesia Investigasi
ACEH UTARA – Kemeriahan perayaan Milad ke-800 Samudera Pasai (Aceh Utara) sukses menarik perhatian masyarakat luas. Rangkaian kegiatan yang digelar secara meriah tersebut dipadati oleh puluhan ribu pengunjung. Di balik kesuksesannya, muncul pertanyaan publik mengenai sumber pembiayaan pesta rakyat tersebut.
Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menegaskan bahwa pelaksanaan perayaan Milad ke-800 Samudera Pasai yang ditutup secara resmi malam ini sama sekali tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) Aceh Utara.
Juru Bicara Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, Muntasir Ramli, menjelaskan bahwa pembiayaan kegiatan murni berasal dari partisipasi dan gotong royong berbagai pihak melalui mekanisme sponsor. Ia juga memastikan pihak panitia mengelola anggaran secara transparan.
“Sebenarnya terkait pembiayaan kegiatan Milad ke-800 Samudera Pasai sudah dijelaskan langsung oleh Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil atau Ayah Wa, saat memberikan sambutan pada malam pembukaan. Selain itu, Bendahara Panitia, Muslim Syamsuddin, juga sudah menyampaikan hal serupa dalam pertemuan bersama rekan-rekan media. Saya rasa hal ini sudah clear,” ujar Muntasir, Minggu (13/9/2026).
Muntasir menambahkan, Piasan Pase merupakan rangkaian peringatan Milad ke-800 Samudera Pasai Kabupaten Aceh Utara yang dipusatkan di pelataran Kantor Bupati sejak 6 hingga 13 September 2026.
Perayaan ini menghadirkan beragam acara, mulai dari pertunjukan seni dan budaya, festival kuliner, panggung komedi, ragam perlombaan keagamaan seperti dakwah dan tilawah, lomba melukis, aksi sosial dan lingkungan, hingga pameran UMKM. Selain itu, terdapat pameran potensi daerah serta bazar dari dinas/OPD, DPRK, BUMN, BUMD, dan pihak swasta.
Ia menegaskan, seluruh perhelatan ini terbangun di atas semangat kolaborasi. Pemerintah daerah berperan memfasilitasi dan mengoordinasikan kegiatan di bawah kepemimpinan Ketua Panitia Pelaksana, M. Jhony (Panglima Jhony), sementara dukungan dari berbagai elemen menjadi pilar utama penyelenggaraan.
“Pelaksanaan kegiatan ini didasari semangat gotong royong dan dukungan penuh berbagai pihak untuk menyukseskan peringatan delapan abad Samudera Pasai di Kabupaten Aceh Utara,” tuturnya.
Menurut Muntasir, perayaan ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan kembali sejarah, seni, budaya, serta warisan peradaban Samudera Pasai kepada masyarakat luas.
“Kegiatan ini berdampak sangat positif terhadap perekonomian warga, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pedagang, serta pelaku ekonomi lokal. Selain melestarikan seni dan budaya, niat utama Ayahwa adalah membangkitkan kembali perekonomian masyarakat pascabencana banjir,” pungkas Muntasir.







