Indonesia-Investigasi.com
GUNUNGSITOLI – Literasi bukan hanya soal seberapa banyak buku yang dibaca, tetapi tentang bagaimana seseorang memahami informasi, berpikir kritis, menemukan gagasan, hingga berani menciptakan karya. Pesan inilah yang mengemuka dalam rangkaian talkshow literasi pada Festival Literasi Kota Gunungsitoli Tahun 2026.
Pemerintah Kota Gunungsitoli melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Gunungsitoli menghadirkan sejumlah narasumber dari unsur pemerintah dan akademisi untuk mengajak pelajar, mahasiswa, guru, pemustaka, dan masyarakat melihat literasi dari sudut pandang yang lebih luas dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pada sesi pertama, Rabu (23/09/2026), Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Gunungsitoli, Mei Linda Rosanti Larosa, ST, bersama Duta Baca Kota Gunungsitoli, Pdt. Yulida Karinastri Zai, S.Th., membahas tema “Budayakan Membaca, Perkuat Literasi untuk Membangun Generasi Berkualitas dan Berdaya Saing”.
Pesan yang disampaikan sederhana, tetapi penting: budaya membaca perlu dimulai dari kebiasaan kecil dan dibangun secara konsisten. Keluarga pun memiliki peran penting sebagai ruang literasi pertama, tempat anak mengenal buku, informasi, dan kebiasaan belajar sejak dini.
Memasuki sesi berikutnya pada Kamis (24/09/2026), Prof. Dr. Erikson Saragih, S.Pd., M.Hum., mengajak peserta melihat hubungan antara literasi, karakter, dan masa depan melalui materi “Membaca untuk Mengubah Masa Depan: Literasi, Karakter, dan Mimpi Generasi Muda”.
Literasi di era digital, menurut materi yang disampaikan, tidak berhenti pada kemampuan membaca. Generasi muda juga perlu mampu memilah informasi, memahami apa yang dibaca, berpikir kritis, dan membangun karakter agar dapat menghadapi perubahan zaman.
Semangat yang sama dilanjutkan Dr. Sadieli Telaumbanua, M.Pd., melalui materi “Pemuda Gunungsitoli Melek Literasi: Bermimpi, Berkarya, Berdaya Saing”. Literasi didorong menjadi bekal bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas, melahirkan karya, berkolaborasi, dan memperluas kesempatan di tengah dunia yang semakin terbuka.
Suasana talkshow pun berlangsung interaktif. Peserta tidak hanya mendengarkan paparan, tetapi turut berdiskusi dan merespons berbagai pertanyaan yang muncul selama kegiatan.
Melalui rangkaian talkshow ini, Festival Literasi Kota Gunungsitoli tidak sekadar mengajak masyarakat untuk lebih banyak membaca, tetapi juga mendorong agar apa yang dibaca dapat menjadi pengetahuan, apa yang dipahami menjadi gagasan, dan apa yang digagas dapat diwujudkan menjadi karya.
Inilah semangat literasi yang terus didorong di Kota Gunungsitoli: membaca untuk memahami, berpikir untuk berkembang, dan berkarya untuk memberi manfaat.
(FZ).
