Indonesia Investigasi
OLEH : Tgk Abdullah
Dalam kehidupan ini, bekerja bukan sekadar rutinitas duniawi untuk menyambung hidup. Ia adalah bagian dari ibadah, bahkan dapat bernilai jihad di sisi Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil. Dan siapa yang bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza Wajalla.” (HR. Ahmad)
Hadis ini menegaskan satu pesan penting: Islam adalah agama yang memuliakan kerja, menghargai keterampilan, dan menjunjung tinggi tanggung jawab terhadap keluarga.
Di tengah realitas zaman yang serba instan, kita sering lupa bahwa kemuliaan justru lahir dari proses panjang, dari tangan yang kasar karena bekerja, dari keringat yang jatuh demi sesuap nasi halal. Seorang ayah yang berangkat pagi dan pulang petang untuk menghidupi anak-istrinya, seorang ibu yang tekun membantu perekonomian keluarga, para petani, nelayan, pedagang, guru, buruh, dan seluruh profesi halal—semuanya memiliki nilai mulia jika diniatkan karena Allah.
Islam tidak memisahkan antara ibadah dan aktivitas dunia. Mencari nafkah yang halal adalah bagian dari ketaatan. Bahkan dalam hadis tersebut, kedudukannya diserupakan dengan mujahid di jalan Allah—sebuah perumpamaan yang sangat agung. Artinya, perjuangan ekonomi yang jujur dan penuh tanggung jawab bukanlah pekerjaan rendahan, melainkan jalan kemuliaan.
Namun, ada syarat yang tak boleh dilupakan: niat dan cara. Niat harus lurus karena Allah, dan cara harus halal serta tidak merugikan orang lain. Kerja keras tanpa kejujuran akan kehilangan nilai spiritualnya. Sebaliknya, pekerjaan sederhana yang dilakukan dengan amanah dan penuh keikhlasan justru bisa menjadi ladang pahala yang terus mengalir.
Maka, mari kita ubah cara pandang kita terhadap kerja. Jangan merasa rendah dengan profesi yang halal. Jangan pula malas untuk meningkatkan keterampilan. Karena Allah menyukai hamba yang berkarya dan terampil—bukan yang berpangku tangan. Umat Islam seharusnya menjadi umat yang produktif, kreatif, dan profesional, tanpa meninggalkan nilai ketakwaan.
Di bulan Ramadhan atau di luar Ramadhan, semangat bekerja harus tetap menyala. Sebab setiap tetes keringat yang diniatkan untuk menjaga kehormatan diri dan menafkahi keluarga, tercatat sebagai amal saleh di sisi-Nya.
Akhirnya, bekerja bukan hanya soal mencari penghasilan, tetapi tentang menjaga martabat, menunaikan amanah, dan menapaki jalan jihad dalam makna yang luas—yakni berjuang dengan segala kemampuan untuk meraih ridha Allah ﷻ.







