AR-RAYYAN: PINTU ISTIMEWA BAGI ORANG-ORANG YANG MENAHAN DIRI

 

Oleh: Tgk Abdullah

 

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang penuh gemerlap dan godaan, ada satu amalan yang sunyi namun agung nilainya: puasa. Ia tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menahan diri dari segala yang dilarang Allah. Dalam sebuah hadits sahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ menyebutkan adanya satu pintu di surga bernama Ar-Rayyan, yang hanya akan dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa.

Bacaan Lainnya

 

Bayangkan, di hari ketika manusia dikumpulkan dalam keadaan haus dan gelisah, terdengar panggilan: “Mana orang-orang yang berpuasa?” Maka berdirilah mereka—orang-orang yang dahulu menahan lapar karena iman, menahan amarah karena takwa, dan menahan hawa nafsu karena berharap ridha Allah. Mereka berjalan menuju pintu yang tidak bisa dimasuki siapa pun selain mereka. Setelah mereka masuk, pintu itu ditutup.

 

Ini bukan sekadar janji simbolik. Ini adalah kemuliaan eksklusif. Allah ﷻ seakan mengabadikan perjuangan batin hamba-hamba-Nya dengan satu gerbang kehormatan.

 

Puasa adalah pendidikan jiwa. Ia melatih kesabaran, keikhlasan, dan empati. Orang yang berpuasa belajar merasakan lapar agar memahami derita fakir miskin. Ia belajar menahan diri agar tidak menjadi budak syahwat. Dalam diamnya puasa, ada revolusi besar dalam diri manusia: dari rakus menjadi qana’ah, dari keras menjadi lembut, dari lalai menjadi sadar.

 

Namun, pertanyaannya: sudahkah puasa kita mengantarkan pada perubahan itu? Ataukah ia hanya menjadi rutinitas tahunan tanpa bekas? Jangan sampai kita menahan lapar, tetapi lisan tetap menyakiti; menahan dahaga, tetapi hati tetap penuh iri dan dengki. Ar-Rayyan bukan untuk orang yang sekadar tidak makan, melainkan untuk mereka yang benar-benar menjaga diri.

 

Di era modern ini, ketika segala sesuatu serba instan dan memanjakan nafsu, puasa menjadi benteng terakhir moralitas. Ia mengingatkan manusia bahwa kebahagiaan bukan pada melimpahnya materi, tetapi pada tunduknya diri kepada Ilahi. Puasa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan pada kemampuan menguasai orang lain, melainkan menguasai diri sendiri.

 

Semoga kita termasuk golongan yang dipanggil dengan penuh kemuliaan itu. Golongan yang berdiri dengan wajah berseri, melangkah menuju Ar-Rayyan, dan memasuki surga dengan rahmat Allah.

 

Karena pada akhirnya, dunia hanyalah persinggahan. Dan Ar-Rayyan adalah tujuan bagi mereka yang sabar menahan diri demi kehidupan yang abadi.

 

Pos terkait