Akulah Abu Lah Buket Bate

Indonesia Investigasi

 

Ditulis Oleh : Sanusiasaman

DI TENGAH hiruk-pikuk kehidupan yang semakin sibuk dan serba cepat, selalu ada sosok-sosok sederhana yang kehadirannya justru memberi warna paling berarti.

Bacaan Lainnya

 

Ia bukan pejabat, bukan pula tokoh besar yang sering tampil di panggung megah.

 

Namun, namanya hidup dalam ingatan banyak orang disebut dengan akrab, penuh rasa hormat, sekaligus kehangatan Abu Lah.

 

Lahir pada 28 Agustus 1981, Tgk. Abdullah yang lebih dikenal sebagai Abu Lah Buket Bate tumbuh menjadi pribadi yang tak pernah jauh dari senyum.

 

Perawakannya yang periang, tutur katanya yang ringan, dan selera humornya yang khas menjadikannya mudah diterima di mana saja.

 

Ia bukan tipe yang menciptakan jarak, melainkan justru menjembatani kebersamaan.

 

Di era ketika informasi menjadi kebutuhan utama, Abu Lah hadir dengan cara yang unik. Ia bukan wartawan resmi, tidak pula terikat dengan lembaga media tertentu. Namun, perannya terasa nyata. Ia adalah “awak media tanpa media”sebuah julukan yang lahir dari kepeduliannya dalam membagikan informasi, terutama tentang kegiatan sosial di masyarakat.

 

Melalui dunia maya, Abu Lah menjadi mata dan telinga bagi banyak orang. Informasi yang ia bagikan seringkali menjadi penghubung antara mereka yang membutuhkan dengan mereka yang mampu membantu.

 

Dalam kesederhanaannya, ia menjelma menjadi saluran kebaikan mengabarkan, menggerakkan, dan menyatukan.

 

Tak hanya itu, di balik aktivitasnya sebagai penggiat media sosial, Abu Lah juga aktif sebagai bagian dari komunitas Radio Amatir Republik Indonesia (RAPI) di Kabupaten Aceh Timur.

 

Keterlibatannya di RAPI semakin menegaskan perannya sebagai penghubung informasi di tengah masyarakat. Melalui jaringan komunikasi radio, ia ikut berkontribusi dalam penyebaran informasi, terutama dalam situasi-situasi yang membutuhkan respon cepat dan koordinasi antarwarga.

 

Namun, kiprahnya tidak berhenti di ruang digital dan gelombang udara. Di kampung halamannya, Buket Bate Bandrong, Peureulak, Aceh Timur, Abu Lah juga dikenal sebagai seorang guru pengajian.

 

Di sana, ia tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebersamaan, kepedulian, dan keikhlasan.

 

Ia hadir dalam setiap denyut kehidupan masyarakat dari kegiatan keagamaan hingga kegiatan sosial.

 

Kehadirannya yang konsisten dalam berbagai aktivitas membuatnya dikenal luas. Bukan karena ia mencari pengakuan, melainkan karena ia selalu ada.

 

Ada ketika masyarakat membutuhkan informasi. Ada ketika masyarakat membutuhkan kehadiran. Bagi Abu Lah, profesi bukanlah ukuran utama dalam hidup.

 

Baginya, yang lebih penting adalah bagaimana seseorang bisa memberi manfaat. Prinsip sederhana ini menjadikannya sosok yang berdampak, tanpa harus mengangkat tinggi namanya sendiri.

 

Kini, bagi masyarakat Peureulak, kehadiran Abu Lah bukan sekadar pelengkap. Ia adalah bagian dari kebutuhan. Informasi yang ia bagikan dinanti, kehadirannya dirindukan, dan senyumnya menjadi penyejuk di tengah berbagai dinamika kehidupan.

 

Dengan penampilan yang sederhana dan sikap yang rendah hati, Abu Lah tetap menjadi dirinya sendiri. Candanya selalu mengalir, membuat setiap percakapan terasa ringan. Ia adalah sosok yang mudah diingat bukan karena kemewahan, tetapi karena ketulusan.

 

Dan mungkin, jika ia diminta untuk memperkenalkan dirinya, ia tidak akan berbicara panjang lebar. Cukup dengan satu kalimat yang sederhana, namun penuh makna.

 

“Akulah Abu Lah.”

 

Sebuah pengakuan yang bukan tentang siapa dirinya di mata dunia, tetapi tentang bagaimana ia memilih untuk hadir sebagai manusia yang bermanfaat, sederhana, dan dekat dengan sesamanya.(*)

 

Pos terkait