Indonesiainveatigasi.com
BANDA ACEH – Malam ke-17 Ramadhan selalu membawa suasana yang berbeda bagi umat Islam. Di malam yang diperingati sebagai peristiwa turunnya Al-Qur’an atau Nuzulul Quran, langit kota Banda Aceh seakan terasa lebih teduh, menghadirkan ruang bagi refleksi, doa, dan silaturahmi.
Di tengah suasana spiritual tersebut, terjadi sebuah pertemuan hangat antara pemerhati sosial dan kebijakan publik Aceh, Drs. M. Isa Alima, dengan Wali Kota Subulussalam, H. Rasyid Bancin. Pertemuan ini berlangsung dalam suasana santai namun penuh makna, di sela-sela kegiatan Ramadhan di Banda Aceh.
Silaturahmi tersebut bukan sekadar pertemuan biasa. Di malam yang penuh keberkahan itu, kedua tokoh tampak berbincang dengan hangat mengenai berbagai hal yang menyangkut masa depan Aceh, khususnya pembangunan sosial dan kesejahteraan masyarakat di daerah-daerah yang terus berkembang seperti Kota Subulussalam.
Bagi Isa Alima, malam Nuzulul Quran bukan hanya peristiwa sejarah turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi juga pengingat bahwa setiap kebijakan dan kepemimpinan harus berpijak pada nilai-nilai keadilan, kepedulian, dan kemanusiaan.
“Al-Qur’an turun membawa cahaya bagi manusia. Di dalamnya ada pesan tentang keadilan sosial, tentang bagaimana pemimpin menjaga amanah dan bagaimana masyarakat saling menguatkan,” ujar Isa Alima dalam perbincangan tersebut.
Ia menilai, momentum Ramadhan, terutama malam Nuzulul Quran seharusnya menjadi ruang refleksi bagi para pemimpin daerah untuk kembali melihat apakah kebijakan yang diambil benar-benar telah menyentuh kehidupan masyarakat di lapisan paling bawah.
Sementara itu, Wali Kota Subulussalam, H. Rasyid Bancin, menyambut hangat silaturahmi tersebut. Dalam suasana yang penuh keakraban, ia menyampaikan pandangannya mengenai berbagai upaya yang sedang dilakukan pemerintah Kota Subulussalam untuk memperkuat pembangunan daerah.
Menurutnya, pembangunan tidak hanya tentang infrastruktur, tetapi juga tentang membangun manusia, memperkuat pendidikan, dan memastikan kesejahteraan masyarakat dapat meningkat secara merata.
“Subulussalam adalah daerah yang terus bertumbuh. Tantangannya tentu tidak kecil, tetapi kami terus berupaya agar pembangunan berjalan seimbang antara ekonomi, sosial, dan nilai-nilai keislaman yang menjadi fondasi masyarakat Aceh,” ujar Rasyid Bancin.
Isa Alima sendiri memandang Subulussalam sebagai salah satu wilayah yang memiliki potensi besar untuk berkembang, baik dari sektor pertanian, perdagangan, maupun sumber daya manusia.
Namun ia juga mengingatkan bahwa potensi tersebut harus dikelola dengan kebijakan yang bijaksana agar benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat luas.
“Aceh memiliki banyak daerah dengan potensi luar biasa. Yang diperlukan adalah kepemimpinan yang mampu menjaga amanah dan memastikan bahwa pembangunan tidak meninggalkan rakyat kecil,” katanya dengan nada reflektif.
Percakapan keduanya di malam Ramadhan itu juga menyentuh pentingnya menjaga hubungan antara tokoh masyarakat, pemerintah daerah, dan berbagai elemen sosial dalam membangun Aceh yang lebih baik.
Menurut Isa Alima, dialog seperti ini sangat penting karena kebijakan publik yang baik sering kali lahir dari percakapan yang jujur dan terbuka.
“Ketika pemimpin daerah mau duduk bersama, mendengar, dan berdiskusi tentang masa depan rakyatnya, di situlah harapan mulai tumbuh,” ujarnya.
Suasana malam di Banda Aceh saat itu terasa damai. Lampu-lampu kota memantulkan cahaya lembut di jalan-jalan yang mulai lengang, sementara masyarakat masih ramai menghadiri kegiatan keagamaan di berbagai masjid untuk memperingati malam Nuzulul Quran.
Dalam keheningan Ramadhan yang penuh makna itu, pertemuan antara Isa Alima dan Wali Kota Subulussalam seakan menjadi simbol bahwa silaturahmi adalah jembatan penting dalam membangun masa depan daerah.
Bagi Isa Alima, Aceh memiliki kekuatan besar dalam nilai-nilai kebersamaan dan solidaritas sosial. Nilai-nilai inilah yang harus terus dijaga agar pembangunan tidak hanya menghasilkan kemajuan materi, tetapi juga memperkuat ikatan kemanusiaan.
“Malam Nuzulul Quran mengajarkan kita bahwa petunjuk pernah turun ke bumi. Tugas manusia hari ini adalah menjaga agar nilai-nilai itu tetap hidup dalam kebijakan, dalam kepemimpinan, dan dalam kehidupan masyarakat,” tuturnya.
Silaturahmi itu pun diakhiri dengan doa dan harapan agar bulan suci Ramadhan membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat Aceh, serta memperkuat semangat kebersamaan antara pemerintah dan rakyat dalam membangun daerah yang lebih adil, makmur, dan bermartabat.
Di bawah langit Ramadhan Banda Aceh yang teduh, dua tokoh itu duduk berbincang dalam kehangatan persaudaraan, sebuah gambaran sederhana bahwa masa depan Aceh selalu lahir dari pertemuan hati, pikiran, dan niat baik untuk membangun negeri.
Jusmadi
