Oleh: Tgk Lah Buket batee
PEUREULAK – Di Kabupaten Aceh Timur, menyimpan jejak penting sejarah Asia Tenggara. Di wilayah inilah berdiri Kerajaan Peureulak, yang oleh banyak sejarawan diyakini sebagai kerajaan Islam pertama di kawasan ini. Namun hingga kini, kebesaran sejarah tersebut belum sepenuhnya hadir dalam ruang publik dan kesadaran masyarakat.
Simpang empat di Peureulak, jalur lurus menuju Desa Bandrong—lokasi makam raja-raja Kerajaan Peureulak—seharusnya menjadi penanda penting perjalanan sejarah Islam Nusantara. Persimpangan ini bukan sekadar jalur transportasi, melainkan jalur menuju sumber peradaban. Sayangnya, kondisi kawasan tersebut masih tampak biasa, tanpa penegasan makna historis yang memadai.
Padahal, Peureulak memiliki posisi strategis sejak abad ke-9 sebagai pusat perdagangan dan penyebaran Islam melalui jalur laut. Dari wilayah ini, Islam berkembang secara damai dan terorganisasi, membentuk sistem pemerintahan dan sosial yang menjadi fondasi bagi kerajaan-kerajaan Islam berikutnya di Nusantara.
Kurangnya penataan dan narasi sejarah di kawasan ini berpotensi mengikis ingatan kolektif generasi muda terhadap akar peradaban Islam di Asia Tenggara. Oleh karena itu, diperlukan perhatian serius dari pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk menjadikan kawasan Peureulak sebagai ruang edukasi sejarah, bukan sekadar wilayah lintasan.
Menempatkan Peureulak secara layak dalam ruang publik bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga upaya merawat identitas dan kebanggaan sejarah. Mengingat Peureulak berarti mengingat awal perjalanan Islam di Asia Tenggara—sebuah warisan besar yang tidak boleh dibiarkan terlupakan.*
