Indonesia Investigasi
ACEH UTARA – Tujuh bulan telah berlalu sejak banjir melanda Gampong Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, Kabupaten Aceh Utara. Namun bagi para petani garam di wilayah pesisir ini, luka yang ditinggalkan bencana belum juga sembuh. Harapan mereka perlahan memudar, tergantikan oleh perjuangan bertahan hidup di tengah keterbatasan.
Dulu, sebanyak 42 petani garam menggantungkan hidup dari pekerjaan yang telah diwariskan turun-temurun. Kini, hanya enam jambo—dapur tradisional pengolahan garam—yang masih berdiri. Selebihnya rusak, hancur, dan tak lagi bisa digunakan. Lahan-lahan penjemuran yang dulunya putih berkilau oleh kristal garam, kini berubah menjadi tanah rusak yang tak lagi memberi harapan.
Di antara sedikit yang masih bertahan, sosok Nurleila (60) menjadi gambaran nyata kerasnya kehidupan pasca bencana. Dengan usia yang tak lagi muda, ia tetap berjuang menjaga sisa-sisa penghidupan yang ada. Namun, kondisi kini jauh berbeda dari sebelumnya.
Lahan penjemuran yang rusak membuatnya tidak bisa lagi memproduksi garam seperti dulu. Ia terpaksa membeli bibit garam dari pasar—sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan. Harga yang mahal menjadi beban tambahan di tengah penghasilan yang terus menurun.
“Sekarang harus beli bibit garam, padahal dulu bisa produksi sendiri. Biayanya jadi besar,” tutur Nurleila lirih saat ditemui awak media yang mendampingi tim peneliti sejarah dari Masyarakat Penggiat Sejarah Nusantara (MAPSINU) , Kamis (21/05/2026).
Dalam sehari, Nurleila hanya mampu membawa pulang sekitar Rp50.000. Jumlah itu nyaris tak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, apalagi untuk memperbaiki lahan atau membangun kembali fasilitas produksi yang rusak.
Kondisi ini tidak hanya dialami Nurleila. Sebagian besar petani garam lainnya telah menyerah. Mereka terpaksa meninggalkan pekerjaan yang selama ini menjadi identitas dan sumber kehidupan mereka. Kini, banyak di antara mereka beralih ke pekerjaan serabutan, sementara yang lain masih berusaha mencari jalan keluar dari keterpurukan.
Di tengah kesunyian tambak yang dulu ramai aktivitas, tersimpan harapan sederhana: perhatian dan uluran tangan dari pemerintah. Para petani berharap ada bantuan nyata untuk memperbaiki lahan, menyediakan bibit, dan menghidupkan kembali usaha garam tradisional yang hampir hilang.
Bagi mereka, ini bukan sekadar soal pekerjaan—melainkan tentang mempertahankan warisan, identitas, dan masa depan keluarga di tanah yang mereka cintai.
Abel Pasai
