Indonesia Investigasi
“Menjemput Maghrib dengan Syukur, Bukan Berlebihan”
Oleh: Tgk. Abdullah
Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah ruhani yang mengajarkan disiplin, kesederhanaan, dan pengendalian diri. Salah satu momen paling sakral dalam ibadah ini adalah saat berbuka puasa—detik-detik yang ditunggu setelah seharian menahan diri demi ketaatan kepada Allah SWT.
Di kota Madinah, setiap kali azan Maghrib berkumandang, Rasulullah ﷺ tidak pernah menunda berbuka. Beliau tidak menunggu hidangan mewah tersaji. Tidak pula mengumpulkan berbagai jenis makanan di hadapan beliau. Sunnahnya begitu sederhana namun penuh makna.
Dalam riwayat yang disampaikan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ berbuka dengan kurma basah (ruthab). Jika tidak ada, beliau berbuka dengan kurma kering (tamr). Jika tidak tersedia juga, maka beberapa teguk air sudah cukup bagi beliau.
Kesederhanaan ini bukan tanpa hikmah. Kurma mengandung glukosa alami yang cepat mengembalikan energi tubuh. Air menenangkan dan menyegarkan lambung yang kosong seharian. Sunnah ini mengajarkan keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan ketenangan ruhani.
Lebih dari itu, Rasulullah ﷺ menegaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj:
“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”
Pesan ini jelas: Islam tidak mengajarkan penyiksaan diri. Ketika waktu berbuka tiba, itu adalah tanda bahwa ketaatan telah sempurna pada hari itu. Menunda berbuka bukanlah bentuk kesalehan tambahan, melainkan menyelisihi sunnah.
Sayangnya, dalam realitas kehidupan modern, momen berbuka sering berubah menjadi pesta makanan. Meja penuh hidangan, aneka takjil berlebihan, hingga terkadang melupakan doa dan rasa syukur. Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan, sebagaimana diriwayatkan oleh At-Tirmidzi:
“Tidaklah anak Adam memenuhi bejana yang lebih buruk daripada perutnya.”
Puasa melatih pengendalian diri. Jika setelah berbuka kita kembali pada sikap berlebihan, maka ruh puasa itu perlahan memudar.
Waktu berbuka juga merupakan saat mustajab doa. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang penuh makna:
“Dzahaba zhama’u wabtallatil ‘uruq wa tsabatal ajru insya Allah.”
(Telah hilang rasa haus, urat-urat telah basah, dan pahala telah tetap, insya Allah).
Doa ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan pengakuan bahwa seluruh kenikmatan berasal dari Allah, dan seluruh pahala bergantung pada keikhlasan.
Berbuka puasa sejatinya adalah momen syukur. Ia bukan hanya tentang mengisi perut, tetapi tentang meneguhkan hati. Ia adalah tanda bahwa satu hari ketaatan telah ditunaikan, dan ibadah berikutnya—shalat Maghrib—siap menyusul.
Ramadhan datang untuk mengajarkan kesederhanaan, bukan kemewahan. Ia membentuk jiwa agar tetap rendah hati, bahkan ketika nikmat terhidang di depan mata.
Mari kita hidupkan kembali adab berbuka sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ: menyegerakan berbuka, memulai dengan yang sederhana, membaca doa, dan makan secukupnya. Karena dalam kesederhanaan itulah tersimpan keberkahan.
Semoga Ramadhan kali ini bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menumbuhkan adab dan kesadaran ruhani dalam diri kita semua. 🌿
