Indonesia Investigasi
ACEH TIMUR – Di balik prestasi dan pengakuan terhadap kekayaan budaya Aceh, tersimpan kisah memprihatinkan yang dialami para pegiat seni tradisional. Grup Seni Budaya Rapai Bandar Khalifah, yang telah berdiri selama puluhan tahun dan berulang kali tampil dalam berbagai kegiatan kebudayaan, kini menghadapi persoalan serius terkait perawatan dan perbaikan peralatan kesenian. Bandrong, selasa (03/11/26)
Sangat disayangkan, selama ini berbagai kerusakan peralatan seni Rapai harus ditanggung melalui dana pribadi para anggota grup. Bahkan, ketika banjir bandang melanda Aceh tahun lalu, sejumlah peralatan kesenian mereka sempat terendam lumpur dan mengalami kerusakan. Namun, menurut para pegiatnya, belum ada perhatian maupun bantuan nyata dari pihak terkait untuk mengetahui kondisi dan membantu pemulihan peralatan tersebut.
Padahal, Rapai Bandar Khalifah bukanlah kelompok seni yang baru dikenal. Grup ini telah berkiprah selama puluhan tahun, pernah tampil dalam ajang Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) di Banda Aceh hampir empat kali, bahkan pernah membawa kesenian tradisional Aceh tampil di luar daerah.
Nama Rapai Bandar Khalifah juga semakin dikenal setelah karya budaya tersebut masuk dalam rekomendasi Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia tahun 2025. Sebagaimana diberitakan, Rapai Bandar Khalifah bersama Khanduri Jrat menjadi dua karya budaya asal Aceh Timur yang direkomendasikan dalam proses pengakuan Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Namun, di tengah kebanggaan atas pencapaian tersebut, muncul pertanyaan besar: bagaimana nasib kelompok seni yang selama ini menjaga dan melestarikan budaya tersebut?
Para anggota grup mengaku masih harus mengumpulkan uang pribadi untuk memperbaiki alat-alat Rapai yang rusak. Padahal, peralatan tersebut merupakan kebutuhan utama agar mereka tetap bisa berlatih dan tampil dalam berbagai undangan kegiatan kebudayaan.
”Kami sangat menyayangkan apabila seni budaya Aceh hanya menjadi kebanggaan dalam pemberitaan dan nama yang terpampang di berbagai acara, tetapi para pegiat yang selama ini menjaga dan mempertahankannya justru harus berjuang sendiri,” ungkap Tgk Lah Buket Batee, mewakili keprihatinan para pegiat seni budaya Rapai Bandar Khalifah.
Ia juga mempertanyakan apakah selama ini terdapat alokasi anggaran pemerintah untuk pemeliharaan dan perbaikan peralatan kelompok seni budaya tradisional.
”Jika memang ada anggaran untuk mendukung pelestarian seni budaya, ke mana kami harus mengajukan bantuan tersebut? Bagaimana mekanisme agar kelompok seni seperti Rapai Bandar Khalifah bisa mendapatkan dukungan untuk memperbaiki peralatan yang rusak?” ujarnya.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menetapkan atau merekomendasikan sebuah karya sebagai Warisan Budaya Takbenda. Lebih dari itu, harus ada perhatian nyata terhadap kelompok masyarakat yang menjadi pelaku, penjaga, sekaligus penerus tradisi tersebut.
Saat ini, kondisi yang dihadapi para anggota Rapai Bandar Khalifah bahkan membuat mereka hampir kehilangan arah dan semangat dalam melanjutkan perjuangan melestarikan seni tradisional.
Mereka berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Timur, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Pemerintah Aceh, serta instansi terkait dapat memberikan perhatian serius terhadap kondisi tersebut.
Bantuan perbaikan peralatan, pembinaan kelompok seni, dukungan operasional, hingga program pelestarian yang berkelanjutan sangat dibutuhkan agar kesenian Rapai tidak hanya dikenal namanya, tetapi juga tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
**Jangan sampai budaya kita hanya mendapatkan pengakuan, tetapi orang-orang yang menjaga dan melestarikannya justru dibiarkan berjuang sendirian.**
Rapai Bandar Khalifah adalah bagian dari kekayaan budaya Aceh yang harus dijaga bersama. Jangan biarkan warisan budaya ini perlahan kehilangan penerus hanya karena minimnya perhatian dan dukungan.
**Tertanda,**
**Tgk Lah Buket Batee**
Pegiat Seni Budaya Aceh
Rapai Bandar Khalifah – Aceh Timur
