“Meneguhkan Iman, Menguatkan Jiwa”
Oleh : Tgk Abdullah
Memasuki hari ke-7 bulan suci Ramadhan, suasana ruhani semakin terasa mendalam. Lapar dan dahaga yang dijalani sejak terbit fajar hingga terbenam matahari bukan sekadar ujian fisik, melainkan proses penyucian jiwa. Ramadhan adalah bulan rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari api neraka. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, Nabi Muhammad ﷺ:
“Barang siapa berpuasa Ramadhan dan menegakkan (shalat malam) karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Hadis ini bukan hanya janji, tetapi juga motivasi. Puasa mengajarkan pengendalian diri—menahan amarah, menjaga lisan, serta mengendalikan hawa nafsu. Dalam konteks sosial, puasa melatih empati kepada mereka yang kekurangan. Ketika perut terasa kosong, hati menjadi lebih peka. Dari sinilah tumbuh solidaritas, sedekah, dan kepedulian terhadap sesama.
Pada hari ke-7 ini, kita diingatkan bahwa puasa adalah perisai dari api neraka. Artinya, puasa bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan benteng moral. Ia membangun ketakwaan yang nyata dalam perilaku sehari-hari: jujur dalam pekerjaan, adil dalam memimpin, dan santun dalam bermedia sosial. Jika puasa hanya menahan lapar tanpa memperbaiki akhlak, maka esensinya belum sepenuhnya kita raih.
Sementara itu, shalat Tarawih di malam hari adalah penguat iman. Di saat sebagian orang terlelap, seorang mukmin berdiri menghadap Tuhannya. Di sanalah terjadi dialog sunyi antara hamba dan Sang Pencipta. Tarawih melatih istiqamah, menghidupkan masjid, serta mempererat ukhuwah Islamiyah. Pertolongan dan kekuatan iman yang dijanjikan bukanlah sesuatu yang kasatmata, tetapi terasa dalam ketenangan hati, kemantapan langkah, dan optimisme menjalani kehidupan.
Ramadhan seharusnya tidak berhenti pada seremoni ibadah. Ia mesti menjadi momentum transformasi. Jika setelah tujuh hari kita masih sama seperti sebelum Ramadhan—mudah marah, lalai, dan abai pada kewajiban—maka ada yang perlu kita evaluasi. Namun jika hati mulai lebih lembut, ibadah lebih khusyuk, dan kepedulian sosial meningkat, itulah tanda bahwa Ramadhan bekerja dalam diri kita.
Puasa melindungi dari neraka, Tarawih menguatkan iman. Keduanya ibarat dua sayap yang mengangkat derajat seorang hamba. Mari jadikan hari ke-7 ini sebagai titik refleksi: sudahkah kita menjalani Ramadhan dengan iman dan penuh harap kepada Allah, atau sekadar menggugurkan kewajiban?
Semoga Ramadhan kali ini benar-benar menjadi jalan keselamatan, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. 🌙
