Indonesia Investigasi
SEMARANG – Penyelenggaraan Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah di Kota Semarang pada 6–9Agustus 2026 diproyeksikan menjadi salah satu agenda organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia tahun ini. Kegiatan tersebut diperkirakan akan dihadiri sekitar 11.500 peserta, termasuk delegasi dari 12 negara, sekaligus menjadi momentum memperkuat persatuan organisasi, transformasi digital, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Komitmen Pemerintah Kota Semarang dalam mendukung suksesnya pelaksanaan muktamar disampaikan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Semarang, Bambang Pramusinto, usai rapat koordinasi di ruang rapat Kesbangpol, Gedung Pandanaran lantai 6, Jumat (10/7).
Ia menjelaskan bahwa Kesbangpol mendapat mandat langsung dari Wali Kota Semarang untuk mengoordinasikan dukungan lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) demi kelancaran seluruh rangkaian kegiatan.
Menurut Bambang, berbagai aspek telah dipersiapkan secara terpadu, mulai dari rekayasa lalu lintas, pengamanan, pelayanan kesehatan, kebersihan, hingga dukungan terhadap lokasi penyelenggaraan. Pembukaan Muktamar XVI akan dipusatkan di kawasan Simpang Lima Semarang, sedangkan sidang-sidang muktamar akan berlangsung di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) selama empat hari.
Ia menilai, kehadiran ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia beserta delegasi internasional akan memberikan dampak positif terhadap perekonomian Kota Semarang. Sektor perhotelan, kuliner, transportasi, hingga pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) diperkirakan akan merasakan peningkatan aktivitas ekonomi selama pelaksanaan muktamar.
“Event nasional seperti ini merupakan peluang bagi daerah untuk memperkuat citra Kota Semarang sebagai kota tujuan kegiatan nasional sekaligus mendorong perputaran ekonomi masyarakat,” ujar Bambang.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Tapak Suci Jawa Tengah sekaligus Ketua Panitia Muktamar XVI, H. Wiwoho Aji Santoso, mengatakan penunjukan Jawa Tengah sebagai tuan rumah merupakan amanah sekaligus kehormatan bagi keluarga besar Tapak Suci. Ia menyebut persiapan intensif telah dilakukan selama sekitar tiga bulan terakhir agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan baik.
Menurut Wiwoho, Muktamar XVI menjadi tonggak penting dalam sejarah organisasi karena untuk pertama kalinya pelaksanaan muktamar mengadopsi sistem digital dalam berbagai aspek administrasi. Transformasi tersebut menjadi bagian dari upaya modernisasi organisasi agar pengelolaan keanggotaan dan administrasi semakin efektif dan terintegrasi.
Saat ini, Tapak Suci telah berkembang di 24 negara, dengan 12 negara telah mengonfirmasi kehadiran pada Muktamar XVI. Untuk peserta sidang muktamar diperkirakan mencapai sekitar 1.100 delegasi, sementara peserta yang telah melakukan registrasi mendekati 900 orang. Adapun jumlah peserta pada acara pembukaan diperkirakan mencapai 11.000 hingga 11.500 orang.
Wiwoho menegaskan, muktamar bukan hanya menjadi forum pemilihan pimpinan baru, tetapi juga forum tertinggi organisasi untuk mengevaluasi pelaksanaan program selama satu periode sekaligus menyusun arah kebijakan organisasi pada masa mendatang.
Selain itu, ia menjelaskan bahwa sejak perubahan Anggaran Dasar pada Muktamar ke-13 di Malang, keanggotaan siswa Tapak Suci telah terbuka bagi seluruh warga negara tanpa membedakan agama. Sementara persyaratan beragama Islam tetap diberlakukan bagi anggota yang akan menjadi kader dan pendekar sebagai bagian dari karakter organisasi yang berada di bawah naungan Muhammadiyah.
Di Jawa Tengah sendiri, jumlah anggota Tapak Suci diperkirakan mencapai 180 ribu hingga 200 ribu orang. Saat ini, organisasi tengah melakukan digitalisasi data keanggotaan melalui penerapan nomor induk elektronik yang terintegrasi secara nasional.
Melalui penyelenggaraan Muktamar XVI, Tapak Suci berharap dapat memperkuat soliditas organisasi, memperkenalkan budaya pencak silat Indonesia kepada masyarakat internasional, serta menegaskan peran olahraga bela diri sebagai sarana pembinaan karakter, pendidikan, persaudaraan, dan diplomasi budaya.
Dengan dukungan penuh Pemerintah Kota Semarang, kehadiran delegasi internasional, serta penerapan transformasi digital, Muktamar XVI Tapak Suci diharapkan menjadi tonggak sejarah baru bagi organisasi sekaligus memperkuat posisi Kota Semarang sebagai tuan rumah berbagai agenda nasional dan internasional yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan perekonomian daerah.
Pewarta : Haris M
