Indonesia Investigasi
BIREUEN – Banjir yang menggulung Kabupaten Bireuen pada 25 November 2025 bukan sekadar air yang datang lalu pergi. Bagi Fitriani (25) dan keluarganya, banjir mengambil segalanya, rumah, tanah, dan kepastian tentang masa depan. Enam bulan berlalu, Mereka masih tidur di dalam tenda.
Di atas kertas, perintah sudah jelas. Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan agar tidak ada lagi warga korban bencana yang bertahan di tenda. Pemerintah daerah diamanahkan bergerak cepat. Namun di Desa Teupin Mane, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, instruksi itu seolah tak pernah sampai.
Awak media indonesiainvestigasi.com mendapati fakta yang menyayat, tiga kepala keluarga (KK) hingga hari ini masih bertahan di tenda darurat, tanpa hunian sementara (huntara), tanpa Dana Tunggu Hunian (DTH), tanpa jaminan hidup (jadup), dan tanpa bantuan apa pun dari pemerintah daerah. Hanya atu keluarga saja yang baru mendapatkan bantuan, itupun hanya DTH saja.
Ketiga keluarga itu adalah M. Dedi Irmawan (35) bersama istri Fitriani (25) dan dua anaknya, Arlisya (8 tahun, kelas 2 SD) dan Sayyidatun Nafisa (3 tahun), Rosnita (60), seorang perempuan lanjut usia yang kini bertahan sendirian,nserta Jufri Muhammad (34) dan istrinya Suryani (34) bersama tiga anak mereka yang masih kecil.
Fitriani menuturkan, selama hampir setengah tahun ini, tak satu pun hak mereka dipenuhi pemerintah. Tidak ada DTH. Tidak ada jadup. Tidak ada huntara.
”Rumah kami hilang dibawa arus banjir beserta tanah yang dulu menjadi tempat kami bernaung. Hingga kini, belum ada satu pun hak kami yang dipenuhi pemerintah,” katanya sambil menangis.
Tim verifikasi tahap pertama pernah hadir. Namun karena tanah tempat berdirinya rumah mereka ikut tersapu banjir, tim itu justru meminta warga untuk mencari lahan sendiri terlebih dahulu sebelum rumah dapat dibangun.
Fitriani menurut, Mereka berjuang mencari dan membeli tanah pengganti. Tapi ketika tim verifikasi tahap kedua turun ke lapangan, mereka tidak datang mengecek kondisi ketiga keluarga ini.
”Saat kami tanya, tim verifikasi mengatakan data kami sudah ada. Tapi sampai hari ini tidak ada tindak lanjut apa pun,” ujar Fitriani.
Sambil terisak, Fitriani menitipkan permohonan langsung kepada Bupati Bireuen dan Gubernur Aceh.
”Pak Bupati, Pak Gubernur, tolong lihat kami. Sudah hampir enam bulan kami masih tidur di tenda tanpa bantuan apa pun. Kami rakyat Bapak. Kalau hujan, kami basah dan harus lari ke rumah tetangga untuk berteduh. Kalau siang, kami kepanasan. Kasihan anak-anak kami yang masih kecil, Pak.”
Ia juga memohon agar pemerintah daerah segera menyediakan huntara. Bagi mereka, itu bukan kemewahan, itu kebutuhan paling mendasar yang belum terpenuhi.
”Kalau ada huntara, berikan saja kepada kami. Kami dan anak-anak sudah sangat jera enam bulan tidur di dalam tenda,” tutupnya.
Suami Fitriani, M. Dedi Irmawan, serta Rosnita menyuarakan harapan yang sama, hak-hak mereka sebagai korban bencana segera dipenuhi, tanpa harus terus-menerus mengemis kepada negara.
Fadjar
