Merawat Luka Batin Pascabanjir: Bintang Kecil Aceh Hadirkan Pemulihan Psikososial Anak di Tiga Kabupaten

 

Indonesia Investigasi

ACEH UTARA — Bencana tidak selalu meninggalkan jejak yang tampak oleh mata. Di balik rumah yang hanyut dan lumpur yang mengering, tersimpan luka batin yang perlahan mengendap, terutama pada anak-anak. Trauma, kecemasan, dan hilangnya rasa aman menjadi beban psikologis yang kerap luput dari perhatian, padahal dampaknya bisa berlangsung jauh lebih lama dibanding kerusakan fisik.

 

Bacaan Lainnya

Banjir hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatera beberapa waktu lalu bukan hanya merusak infrastruktur dan permukiman warga, tetapi juga mengguncang kondisi mental para penyintas. Anak-anak kehilangan ruang bermain, rutinitas, bahkan rasa aman yang selama ini mereka kenal. Banyak dari mereka menunjukkan perubahan perilaku, ketakutan berlebih, hingga kesulitan mengekspresikan emosi.

 

Merespons situasi tersebut, Yayasan Cahaya Bintang Kecil Aceh berkolaborasi dengan Komunitas Lhee Club dan CV Daratan Samudera menginisiasi program dukungan psikososial bertajuk “Bergerak di Lingkar Kendali”. Program ini menyasar wilayah-wilayah terdampak banjir terparah di Kabupaten Pidie Jaya, Bireuen, dan Aceh Utara, dengan fokus utama pada pemulihan mental anak-anak dan kelompok rentan.

 

Koordinator Lapangan sekaligus pembina Yayasan Cahaya Bintang Kecil Aceh, Maria Ulfa, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk kembali merasa didengar, diterima, dan dihargai.

“Bencana memang berada di luar kuasa kita, tetapi proses pemulihan terutama kesehatan mental masih berada dalam lingkar kendali manusia. Di sanalah empati, kehadiran, dan kepedulian menjadi sangat berarti,” ujar Maria Ulfa kepada pewarta saat kegiatan berlangsung di Langkahan, Aceh Utara, Selasa (30/12/2025).

 

Tiga Wilayah, Satu Tujuan Kemanusiaan,

Di Kabupaten Pidie Jaya, kegiatan dukungan psikososial dilaksanakan di Masjid Tuha dan sepenuhnya difasilitasi oleh Komunitas Lhee Club. Sebanyak 112 anak terlibat aktif dalam sesi pemulihan yang dikemas secara ramah dan partisipatif.

 

Sementara itu, di Kabupaten Bireuen, kegiatan dipusatkan di Desa Balee Panah, Kecamatan Juli, salah satu kawasan dengan dampak banjir paling berat. Di wilayah ini, 114 kepala keluarga terpaksa mengungsi, 55 rumah hilang total akibat perubahan alur sungai, dan 42 rumah lainnya berada dalam kondisi sangat berisiko. Dukungan psikososial di lokasi pengungsian diikuti oleh 117 anak, 5 ibu menyusui, dan 10 lansia, yang selama ini hidup dalam ketidakpastian.

 

Adapun di Kabupaten Aceh Utara, program dilaksanakan di Gampong Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, pada Selasa, 22 Desember 2025. Sebanyak 112 anak menjadi peserta kegiatan. Wilayah ini tergolong sulit dijangkau karena akses jalan berlumpur dan medan yang berat. Hingga kegiatan berlangsung, belum ada lembaga lain yang masuk untuk memberikan layanan pemulihan psikologis di daerah tersebut.

 

Dalam pelaksanaannya, tim menggunakan pendekatan terpadu berupa art terapi dan terapi menulis, khususnya bagi anak-anak dan remaja. Metode ini dipilih karena bersifat ekspresif, menyenangkan, dan efektif dalam membantu anak menyalurkan emosi, meredakan stres, serta membangun kembali rasa aman setelah bencana.

 

Program “Bergerak di Lingkar Kendali” dilaksanakan selama 10 hari, terhitung sejak 24 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026, dan dilakukan secara bertahap di setiap wilayah sasaran.

 

Lebih dari sekadar kegiatan pendampingan, program ini menjadi pengingat bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan logistik dan pembangunan fisik. Merawat kesehatan mental, terutama generasi muda, adalah investasi kemanusiaan jangka panjang.

 

Melalui gerakan sederhana namun konsisten, Bintang Kecil Aceh dan para mitra berupaya memastikan bahwa di tengah puing-puing bencana, harapan dan ketahanan jiwa tetap tumbuh.

 

Nasliati

Pos terkait