Oleh: Tgk. Abdullah bin Rusli
Ada Banyak orang yang tidur nyenyak setiap malam di rumah yang kokoh dan nyaman. Namun di sisi lain, masih ada saudara-saudara kita yang harus bertahan hidup di rumah yang hampir roboh, beratap bocor, berdinding lapuk, dan penuh kekhawatiran setiap kali hujan turun atau angin kencang datang.
Di sebuah pelosok Aceh Timur, seorang ibu bersama anak-anaknya pernah menjalani kehidupan seperti itu. Hari-harinya dipenuhi perjuangan. Ketika malam tiba dan hujan mulai turun, bukan rasa tenang yang datang, melainkan kecemasan. Air menetes dari atap yang bocor. Dinding yang rapuh menjadi saksi bisu kehidupan yang serba kekurangan.
Sebagai seorang ibu, tidak ada yang lebih menyakitkan selain melihat anak-anak harus tumbuh dalam keadaan serba terbatas. Namun di tengah kesulitan itu, ia tetap bersabar. Ia tidak memiliki banyak harta, tetapi ia memiliki sesuatu yang sangat berharga: doa yang tidak pernah putus kepada Allah SWT.
Bertahun-tahun ia berharap. Bertahun-tahun ia menunggu. Dan bertahun-tahun pula ia meyakini bahwa pertolongan Allah pasti datang pada waktu yang paling tepat.
Hingga akhirnya hari itu tiba.
Ketika kunci rumah layak huni diserahkan kepadanya, tubuhnya tampak bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia memandang rumah yang berdiri kokoh di hadapannya, seolah tidak percaya bahwa tempat itu kini menjadi miliknya dan keluarganya.
Air mata pun jatuh.
Bukan karena kesedihan.
Bukan karena penderitaan.
Tetapi karena rasa syukur yang begitu besar hingga tidak mampu lagi diungkapkan dengan kata-kata.
Di saat sang ibu menangis haru, anak-anak yatim di sampingnya justru tersenyum dan tertawa bahagia. Mereka berlari kecil memasuki rumah baru itu. Mereka melihat kamar yang selama ini hanya menjadi impian. Mereka menyentuh dinding yang kokoh. Mereka memandangi atap yang tidak lagi bocor.
Mungkin bagi sebagian orang, itu hanyalah sebuah rumah sederhana.
Namun bagi mereka, itu adalah kehidupan baru.
Itu adalah rasa aman yang selama ini dirindukan.
Itu adalah harapan yang selama ini diperjuangkan.
Pemandangan tersebut membuat banyak orang yang hadir menundukkan kepala. Ada yang diam. Ada yang mengusap air mata. Sebab tidak semua kebahagiaan bisa dijelaskan dengan kalimat. Terkadang kebahagiaan hanya bisa dirasakan oleh hati yang masih memiliki kepedulian terhadap sesama.
Di saat itulah kita menyadari bahwa sedekah bukan sekadar memberikan uang. Sedekah adalah menghadirkan senyum di wajah orang yang hampir putus asa. Sedekah adalah menghapus kegelisahan seorang ibu. Sedekah adalah membuat anak-anak yatim bisa tidur dengan tenang tanpa takut hujan masuk ke dalam rumah.
Allah SWT berfirman:
“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. Al-Baqarah: 261)
Ayat ini seakan hidup dan nyata di hadapan kita. Harta yang dikeluarkan oleh para dermawan mungkin terlihat berkurang di dunia, tetapi sesungguhnya sedang tumbuh menjadi pahala yang tidak terhingga di sisi Allah SWT.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Barang siapa melepaskan satu kesusahan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan satu kesusahannya pada hari kiamat.”
(HR. Muslim)
Rumah layak huni yang berdiri hari ini bukan sekadar bangunan. Ia adalah simbol kepedulian, persaudaraan, dan bukti bahwa dakwah tidak hanya dilakukan dengan lisan, tetapi juga dengan tindakan nyata.
Betapa indahnya ketika ada orang yang tidak pernah bertemu langsung dengan keluarga penerima manfaat, namun rela menginfakkan hartanya demi membantu mereka. Mungkin mereka tidak melihat air mata sang ibu saat menerima kunci rumah. Mungkin mereka tidak menyaksikan senyum anak-anak yatim yang berlarian di rumah barunya.
Tetapi Allah melihat semuanya.
Allah mencatat semuanya.
Dan Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan hamba-Nya.
Hari itu, sebuah gubuk yang dulu dipenuhi kesedihan telah berganti menjadi rumah yang menghadirkan kebahagiaan.
Hari itu, seorang ibu menangis karena syukur.
Hari itu, anak-anak yatim tertawa karena bahagia.
Dan hari itu pula, kita kembali belajar bahwa tangan yang memberi akan selalu lebih mulia daripada tangan yang menerima.
Semoga semakin banyak hati yang tergerak untuk membantu sesama. Sebab di luar sana masih banyak ibu yang sedang berdoa, masih banyak anak yatim yang sedang berharap, dan masih banyak keluarga dhuafa yang menunggu hadirnya pertolongan dari saudara-saudaranya.
Siapa tahu, jalan menuju surga yang Allah bukakan untuk kita bukan melalui sesuatu yang besar, melainkan melalui air mata bahagia seorang ibu dan senyum tulus anak-anak yatim yang pernah kita bantu.
