Indonesia Investigasi
ACEH UTARA — Perjalanan panjang yang dipenuhi doa, pendidikan, kerja keras, dan dukungan keluarga akhirnya berbuah manis bagi Jufriza, MN., ST., MT. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan Magister Teknik Sipil di Universitas Malikussaleh (Unimal) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,76, masa studi 1 tahun 11 bulan, serta meraih predikat Cumlaude atau Dengan Pujian.
Bagi Jufriza, pencapaian tersebut bukan sekadar sebuah gelar akademik. Di balik toga dan gelar Magister Teknik yang kini disandangnya, terdapat perjalanan panjang yang dibangun dari doa orang tua, pendidikan agama di dayah, dukungan keluarga, serta ikhtiar yang terus dijalankan.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur kepada Allah SWT. Apa yang saya raih hari ini bukan semata-mata karena kemampuan saya, tetapi ada doa orang tua, dukungan keluarga, guru-guru, sahabat, dan orang-orang yang selama ini memberikan semangat,” ungkap Jufriza.
*Dari Pendidikan Dayah hingga Magister Teknik*
Perjalanan pendidikan Jufriza memiliki warna tersendiri. Setelah menyelesaikan pendidikan di SMP Negeri 1 Nisam, Aceh Utara, ia memilih melanjutkan pendidikan ke Dayah Madinatuddiniyah Darul Huda Paloh Gadeng, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara.
Masa belajar di dayah tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Ia mengaku mendapatkan banyak keberkahan dan pelajaran dari para ulama, khususnya sosok Abu Dibale atau Abu Paloh Gadeng, Abu Mustafa Puteh.
Jufriza masih mengingat bagaimana dirinya, ketika masih duduk di kelas tiga, bersama sejumlah kawan sering menyelinap dan duduk di bagian paling belakang saat para dewan guru mengikuti pengajian Abu.
Meski hanya duduk di belakang tiang dan berusaha tidak terlihat, kesempatan mendengar langsung petuah dan nasihat Abu menjadi pengalaman yang hingga kini tetap melekat dalam ingatannya.
“Waktu itu saya masih kelas tiga. Kalau ada pengajian dewan guru, saya dan kawan-kawan sering menyelinap duduk di belakang, dekat tiang, untuk mendengar petuah Abu. Walaupun sebentar, bagi saya itu menjadi pengalaman yang sangat berharga,” kenangnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan di dayah, Jufriza melanjutkan pendidikan formal di SMA Negeri 1 Dewantara, kemudian menempuh pendidikan sarjana di Universitas Malikussaleh.
Perjalanan akademiknya tidak berhenti pada jenjang sarjana. Ia kemudian melanjutkan pendidikan Magister Teknik Sipil di Universitas Malikussaleh hingga akhirnya berhasil menyelesaikannya dengan IPK 3,76 dan predikat Cumlaude.
Jufriza merupakan putra dari Alm. Drs. Tgk. H. M. Nurdin Meurah dan Hj. Ainol Mardhiah. Ia merupakan anak kelima dari enam bersaudara, terdiri dari empat laki-laki dan dua perempuan.
Saudara-saudaranya adalah Afifuddin, MN., A.Md.; Dr. Ir. Saifuddin, MN., ST., MT.; Bd. Mardiana, MN., S.Tr.Keb.; Abi Dr. Safriadi, MN., SHI., MA.; Jufriza, MN., ST., MT.; dan Cut Hilda Wahyuni, MN., S.Pd.
Keluarga menjadi bagian penting dalam perjalanan Jufriza. Sosok sang ayah, almarhum Drs. Tgk. H. M. Nurdin Meurah, dikenal bukan hanya sebagai seorang ayah, tetapi juga sebagai tokoh agama dan masyarakat.
Selain aktif sebagai Tgk dalam pengajian rutin bagi anak-anak di sejumlah desa seperti Mns Meucat, Peunayan, Blang Dalam dan wilayah Kecamatan Nisam, almarhum ayah Jufriza juga pernah berprofesi sebagai hakim Mahkamah Syariah dan pernah dipercaya menjadi hakim ketua.
Ia juga dikenal sebagai salah seorang tokoh pembangunan di Kecamatan Nisam dan pernah menjadi penasihat dalam pemerintahan Aceh Utara.
Sementara sang ibu, Hj. Ainol Mardhiah, merupakan lulusan Dayah Ie Rhet Bungkah. Sebagai seorang ibu rumah tangga, ia sepenuhnya mendedikasikan diri bagi keluarga.
Sepeninggal sang suami, sang ibu tetap melanjutkan kegiatan pengajian bagi anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya. Keteguhan dan pengabdiannya menjadi salah satu sumber kekuatan bagi anak-anaknya.
Bagi Jufriza, keberhasilan yang diraihnya hari ini tidak dapat dilepaskan dari doa kedua orang tuanya.
Dalam perjalanan menyelesaikan pendidikan magister, Jufriza juga mendapatkan dukungan dari sang istri, Anna Fadhla Mukhtar, SKM. Gadis cantik dan Hebat berasal dari Gampong Namploh Krueng Samalanga Kabupaten Bireuen merupakan anak kedua dari pasangan Almarhum H.Mukhtar dan Ibu Tisiyah, S.Pd.
Ia menyebut dukungan keluarga, khususnya istri, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses panjang menyelesaikan pendidikan magister.
Baginya, keberhasilan pendidikan bukan hanya tentang siapa yang berdiri di atas panggung menerima gelar, tetapi juga tentang orang-orang yang ikut berjalan, mendukung, mendoakan, dan memberikan semangat ketika proses terasa berat.
Selain perjalanan akademik, Jufriza juga aktif dalam organisasi alumni. Di lingkungan IKA Unimal (Ikatan Alumni Universitas Malikussaleh), ia dipercaya sebagai Wakil Ketua Umum.
Dalam organisasi tersebut, Jufriza mendampingi Azhari Cage, yang dipercaya sebagai Ketua Umum IKA Unimal.
Kepercayaan tersebut menjadi bagian lain dari perjalanan pengabdiannya kepada almamater. Dukungan dan kepercayaan dari para alumni menjadi motivasi bagi dirinya untuk terus berkontribusi.
“Kepercayaan ini tentu menjadi amanah. Saya berusaha menjalankannya dengan sebaik-baiknya dan memberikan manfaat bagi almamater serta para alumni,” ujarnya.
Bagi Jufriza, gelar Magister Teknik bukanlah akhir dari perjalanan. Justru pencapaian tersebut menjadi titik baru untuk memberikan manfaat yang lebih luas.
Ia menyadari bahwa pendidikan pada akhirnya bukan sekadar mengejar gelar atau prestasi akademik, tetapi bagaimana ilmu yang diperoleh dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Perjalanan dari pendidikan dayah, sekolah formal, perguruan tinggi hingga berhasil menyandang gelar Magister Teknik menjadi pengingat bahwa setiap proses memiliki nilai dan keberkahan tersendiri.
“Yang paling penting adalah bersyukur. Setiap keberhasilan pasti ada proses panjang di belakangnya. Jangan pernah meremehkan proses, karena dari proses itulah kita belajar tentang kesabaran, perjuangan, dan arti sebuah keberhasilan,” tuturnya.
Dengan penuh rasa syukur, Jufriza berharap ilmu dan pengalaman yang diperolehnya dapat terus memberikan manfaat bagi keluarga, almamater, masyarakat, dan daerah.
Sebab pada akhirnya, sebuah gelar bukan hanya tentang apa yang berhasil diraih, tetapi tentang seberapa besar ilmu dan keberhasilan tersebut dapat menjadi jalan untuk memberi manfaat kepada sesama.
