Indonesia-Investigasi.com
GUNUNGSITOLI – Ketersediaan lapangan pekerjaan di Kota Gunungsitoli saat ini dinilai sangat terbatas. Kondisi ini berdampak pada meningkatnya pengangguran, khususnya di kalangan anak muda, yang kemudian berimbas pada naiknya angka kemiskinan dan menurunnya daya beli masyarakat.(4/5/2026).
Situasi tersebut juga mulai memicu keresahan sosial. Aksi kriminal seperti penjambretan dilaporkan mulai terjadi dan meresahkan warga. Menurut Yusman Dawolo, yang akrab disapa Bang YD, fenomena ini tidak bisa dilihat secara hitam putih.
“Bisa saja seseorang melakukan jambret antara sesama karena perutnya lapar, tidak punya uang untuk beli makanan. Mereka mengambil jalan pintas sekadar untuk bertahan hidup, bukan untuk menjadi kaya. Namun, mereka tidak berpikir panjang bahwa tindakan itu bisa membahayakan orang lain”, Ucapnya.
Karena itu, Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kota Gunungsitoli harus segera mengambil langkah nyata dan terukur dalam membuka lapangan pekerjaan. “Kejahatan bukan hanya soal niat dan kesempatan. Kadang karena perut kosong dan pikiran mentok, orang mengambil jalan pintas”, Katanya.
Bang YD mempertanyakan keseriusan pemerintah daerah yakni :
“Apa langkah nyata Kota Gunungsitoli dalam membuka lapangan pekerjaan ini
Ia menekankan bahwa pemerintah tidak boleh terus-menerus beralasan, menyalahkan kondisi, atau bergantung pada kebijakan pusat.
Menurutnya, Gunungsitoli perlu membangun job creation engine berbasis potensi lokal seperti pertanian, peternakan, perikanan, dan UMKM, dengan roadmap yang jelas untuk jangka 1 tahun, 3 tahun, hingga 5 tahun ke depan.
“Di banyak kota maju, UMKM adalah penyerap tenaga kerja terbesar”, Tuturnya.
Untuk jangka pendek (1 tahun), Ia mengusulkan program konkret
“Wali Kota bisa membuat program 1000 UMKM Naik Kelas, mereka dibantu, dilatih, dan didampingi. Jika satu UMKM mampu menyerap minimal 3 tenaga kerja, maka akan tercipta 3.000 lapangan pekerjaan”, Tambahnya.
Selain itu, Ia mendorong transformasi sektor primer menjadi produk bernilai tambah, Nelayan, ikan segar, ikan asap, ikan kering, abon. Petani singkong dan pisang menjadi keripik. Kelapa menjadi minyak kelapa atau santan kemasan.
“Nilai produk bisa meningkat 2–5 kali lipat tanpa teknologi tinggi”, Ucapnya.
Dengan pendekatan tersebut, Ia meyakini pendapatan masyarakat bisa meningkat signifikan. “Rumah tangga yang sebelumnya hanya berpenghasilan Rp500 ribu per bulan bisa naik menjadi Rp2–3 juta dalam satu tahun”, Jelasnya.
Untuk jangka menengah (3 tahun), Ia menyarankan pengembangan sektor peternakan seperti ayam pedaging dan ayam petelur sebagai sumber ekonomi baru.
“Kalau ada kemauan, pasti ada jalan. Kalau benar peduli terhadap minimnya lapangan kerja bagi generasi muda, pasti akan lahir terobosan. Kecuali memang memilih untuk tidak peduli”, Tegasnya.
Mengakhiri Bang YD juga mengingatkan bahwa pemangkasan anggaran dari pemerintah pusat tidak boleh dijadikan alasan untuk stagnan.
“Pemerintah daerah harus mandiri, kreatif, dan mampu meningkatkan PAD. Jangan terus bergantung pada pusat, harus mulai berpikir dan bertindak” Tutupnya. (Tim).
