Indonesia Investigasi
BANDA ACEH – Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Aceh membuka lembaran baru. Melalui Dewan Pengurus Wilayah (DPW), partai yang lahir dari rahim perjuangan ulama dan santri ini resmi membuka pendaftaran bakal calon Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) tingkat kabupaten/kota se-Aceh untuk masa bakti 2026–2031, pendaftaran mulai tanggal 1 hingga 15 Maret 2026.
Di bawah kepemimpinan Ketua DPW PKB Aceh, H. Ruslan M. Daud, atau yang akrab disapa HRD, PKB Aceh memanggil kader terbaik dan tokoh potensial untuk mengambil bagian dalam kepemimpinan strategis partai.
HRD bukan sekadar politisi. Ia adalah salah satu putra terbaik Aceh yang telah menapaki jejak pengabdian panjang: menjabat sebagai Bupati Bireuen periode 2012–2017, lalu dipercaya rakyat Aceh sebagai Anggota DPR RI periode 2019–2024 dan kembali terpilih untuk periode 2024–2029. Rekam jejaknya membentang dari kepemimpinan eksekutif di daerah hingga perjuangan legislasi di tingkat nasional.
“PKB adalah rumah perjuangan. Kami membuka ruang seluas-luasnya bagi kader internal maupun tokoh eksternal, akademisi, pengusaha, profesional, aktivis, santri, dan politisi muda untuk bergabung dan memimpin DPC PKB di kabupaten/kota,” ujar HRD.
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) lahir pada tahun 1998, didirikan oleh para ulama kharismatik Nahdlatul Ulama, dengan salah satu tokoh sentralnya adalah Presiden ke-4 Republik Indonesia, K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sejak awal, PKB dikenal sebagai partai para santri, partai yang menjadikan nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan sebagai fondasi perjuangan.
Di Aceh, semangat itu menemukan resonansinya. Negeri para ulama dan dayah ini memiliki sejarah panjang perjuangan moral dan spiritual. Karena itu, HRD secara khusus mengajak generasi muda berlatar belakang pesantren, dayah modern untuk tidak alergi terhadap politik.
“Politik adalah alat. Jika dipegang oleh orang baik, ia menjadi jalan menghadirkan kemaslahatan. PKB adalah perahu perjuangan itu,” tegasnya.
Berbeda dari stigma politik eksklusif, PKB Aceh membuka pintu bagi siapa saja yang memiliki kapasitas, jejaring, integritas, dan semangat pengabdian. Tak ada persyaratan administrasi yang berbelit. Cukup mengirimkan Curriculum Vitae (CV) ke email resmi panitia atau menghubungi nomor WA panitia penjaringan di : 0813 6010 9482.
Tahapan selanjutnya, kandidat potensial akan dibawa ke forum Musyawarah Cabang (Muscab) pada 28 Maret hingga 20 April 2026, lalu mengikuti uji kelayakan dan kepatutan oleh Dewan Pengurus Pusat (DPP) PKB. Keputusan final tetap berada di tangan DPP, sesuai mekanisme organisasi.
Untuk memastikan proses berjalan objektif dan terstruktur, DPW PKB Aceh membentuk Tim Penataan Struktur dan Panitia Seleksi DPC (Tim Lima) yang diketuai Muhammad Adam M.Ed bersama Salihin, Rijaluddin, Amiruddin M. Daud, dan Tgk. Zulfikar.
Bagi kalangan muda dan akademisi Aceh, momentum ini bukan sekadar perekrutan struktural. Ini adalah panggilan sejarah. Aceh membutuhkan generasi pemimpin baru yang berani berpikir ilmiah, berakhlak santri, dan memiliki keberanian moral dalam merumuskan kebijakan publik.
HRD, dengan pengalaman memimpin daerah dan duduk di parlemen nasional, memahami bahwa masa depan Aceh tak bisa hanya diserahkan pada retorika. Ia membutuhkan energi muda, gagasan segar, dan keberanian untuk membawa politik kembali pada khitahnya, memperjuangkan kesejahteraan rakyat.
“Dengan PKB, masyarakat harus merasakan manfaat nyata. Politik bukan sekadar kontestasi, tetapi jalan konstitusional untuk mengawal kebijakan yang berpihak,” ujarnya.
Sejarah PKB adalah sejarah kebangkitan santri dalam kancah demokrasi. Di tangan pemimpin seperti HRD, PKB Aceh berupaya merajut idealisme dengan realitas, nilai agama dengan kebijakan publik, serta semangat lokal dengan visi nasional.
Kini, panggilan itu terbuka. Bagi para pemuda, akademisi, profesional, dan santri Aceh, ini saatnya melangkah. Bukan sekadar menjadi penonton sejarah, tetapi pelaku perubahan.
Dan PKB Aceh membuka pintu itu.
Pertanyaannya: apakah Anda siap menjadi bagian dari perjuangan ini..?
( Fadjar )
