Indonesia Investigasi
ACEH TIMUR – Bencana adalah ujian dari Allah SWT, bukan hanya bagi mereka yang terdampak secara langsung, tetapi juga bagi para pemimpin dan wakil rakyat yang memikul amanah di pundaknya. Banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh menjadi pengingat bahwa kekuasaan dan jabatan sejatinya adalah titipan, yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Di tengah musibah tersebut, kehadiran Anggota DPR Aceh Dapil VI, Martini, di tengah masyarakat bukan sekadar aktivitas kedinasan, melainkan bentuk pelaksanaan amanah. Islam mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Dalam konteks inilah, turun langsung membantu masyarakat yang tertimpa musibah menjadi bagian dari ibadah sosial.
Keikhlasan yang disampaikan Martini—bahwa lelah tidak terasa ketika niat diluruskan karena Allah—menggambarkan nilai dasar pengabdian dalam Islam.
Amal yang dilakukan dengan niat ikhlas tidak hanya meringankan beban sesama, tetapi juga menjadi tabungan akhirat. Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang meringankan kesulitan seorang mukmin, maka Allah akan meringankan kesulitannya di dunia dan akhirat.
Sebagai wakil rakyat, kehadiran tanpa membedakan wilayah dan kepentingan menunjukkan prinsip keadilan dan kepedulian yang diajarkan agama. Dalam musibah, semua manusia memiliki kedudukan yang sama sebagai hamba Allah yang membutuhkan pertolongan dan kasih sayang.
Bantuan yang disalurkan mungkin tidak mampu mengembalikan apa yang hilang, namun kepedulian yang tulus dapat menguatkan hati dan menumbuhkan harapan. Semoga setiap langkah yang diambil, setiap tenaga yang dikeluarkan, dan setiap bantuan yang disalurkan dicatat sebagai amal jariyah.
Pada akhirnya, kepemimpinan yang diridhai Allah adalah kepemimpinan yang hadir di saat sulit, bekerja dengan ikhlas, dan menjadikan pengabdian kepada rakyat sebagai jalan mendekatkan diri kepada-Nya.
Tgk Abdullah
