Indonesia Investigasi
ACEH UTARA — Di tengah suasana Ramadhan yang penuh rahmat dan keberkahan, langkah-langkah manusia kembali menapak jejak sejarah. Namun kali ini bukan sekadar untuk mengenang masa lalu, melainkan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kemanusiaan yang pernah ditanamkan oleh para pendahulu.
Dalam rangka memperingati Haul ke-751 Sultan Al-Malik Ash-Shalih (696 H – 1447 H), Center for Information of Sumatra Pasai Heritage bersama Halaqah Mukhlisin Malaysia, para donatur Perumahan Bogor Asri, Ummi Hana, Abu Hasan, Forum Komunikasi Masyarakat Geuredong Pase, Komunitas Trader Aceh, serta para penggiat sejarah dan budaya Aceh lainnya bersatu dalam satu niat: menyalakan kembali cahaya kepedulian yang diwariskan oleh sang Sultan.
Kegiatan yang berlangsung sejak Kamis, 5 hingga 13 Maret 2026, dilaksanakan di beberapa kecamatan di Aceh Utara dengan mengusung tema “Bantuan untuk Korban Banjir Aceh Utara.” Tema ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah ikhtiar untuk menghadirkan harapan di tengah duka masyarakat yang sedang diuji oleh bencana banjir.
Ketua CISAH, Abd. Hamid, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam kepada seluruh relawan, para dermawan, serta penggiat sejarah dan budaya—baik dari Aceh, luar Aceh, maupun dari mancanegara—yang telah menyatukan hati dalam semangat kebersamaan.
Menurutnya, Ramadhan selalu mengajarkan manusia tentang makna kasih sayang: tentang tangan yang ringan untuk memberi, dan tentang hati yang lapang untuk merasakan penderitaan sesama.
“Bagi masyarakat Aceh, nama Sultan Al-Malik Ash-Shalih bukan sekadar kisah dalam lembar sejarah,” ungkap Abel Pasai—sapaan akrabnya.
“Beliau adalah simbol awal cahaya Islam di Asia Tenggara. Sosok yang menanamkan nilai keimanan, keadilan, dan kepedulian terhadap umat. Karena itu, memperingati haul beliau bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga menghidupkan kembali nilai kemanusiaan yang beliau wariskan.”
Melalui kegiatan ini, bantuan disalurkan kepada masyarakat di Kecamatan Langkahan dan beberapa wilayah lain yang terdampak banjir beberapa waktu lalu. Bantuan tersebut menjadi bukti bahwa sejarah tidak berhenti sebagai cerita masa lampau, tetapi mampu menggerakkan hati manusia untuk menghadirkan kebaikan di masa kini.
Rangkaian kegiatan berlangsung dalam suasana penuh kekhidmatan. Dimulai dengan doa bersama, tausiah, serta pemaparan tentang sosok Sultan Al-Malik Ash-Shalih yang disampaikan oleh peneliti CISAH, Sukarna Putra. Suasana haru pun menyelimuti ketika santunan diberikan kepada puluhan anak yatim di sekitar situs makam Sultan.
Puncaknya, pada 13 Maret 2026, para relawan kembali bergerak menyalurkan bantuan bagi masyarakat korban banjir di beberapa kecamatan lainnya.
Di tengah kesederhanaan kegiatan itu, banyak mata yang berkaca-kaca. Ramadhan seakan menjadi saksi bahwa warisan Sultan Al-Malik Ash-Shalih masih hidup hingga hari ini—bukan hanya dalam makam bersejarah atau catatan kitab, tetapi dalam setiap tangan yang terulur membantu sesama, dalam setiap langkah kecil yang diambil untuk meringankan beban saudara yang sedang diuji.
Dari tanah Pasai yang sarat sejarah, pesan itu kembali bergema:
bahwa peradaban besar tidak lahir dari kemegahan semata, melainkan dari hati yang penuh kasih dan keberanian untuk berbagi.
Haul ini pun menjelma lebih dari sekadar peringatan tahunan. Ia menjadi doa bersama, harapan bersama, sekaligus pengingat bahwa nilai-nilai luhur para pendahulu akan tetap hidup selama masih ada generasi yang menjaga, merawat, dan meneruskannya dengan keikhlasan serta cinta kepada sesama.(Red)
