Indonesia Investigasi
ACEH UTARA|Indonesiainvestigasi – Aktivitas perdagangan internasional dari pesisir utara Aceh kembali menunjukkan tren pertumbuhan positif. Pelabuhan Umum Krueng Geukueh, Aceh Utara, pada Jumat malam melakukan ekspor 11.000 ton palm kernel shell (PKS) atau cangkang sawit menuju Jepang menggunakan kapal berbendera Filipina, MV Ayana Smile.
Kapal dijadwalkan bertolak tepat pukul 23.00 WIB dengan membawa komoditas biomassa yang saat ini semakin diminati pasar global sebagai sumber energi hijau alternatif pengganti batu bara.
Ekspor ini menjadi pengapalan kedua sepanjang 2026 melalui Pelabuhan Krueng Geukueh. Sebelumnya, pada Januari lalu, volume ekspor PKS tercatat sebesar 9.500 ton. Dengan capaian terbaru ini, terjadi peningkatan sekitar 15,8 persen, menandakan permintaan pasar internasional terhadap biomassa asal Aceh terus tumbuh.
Seluruh aktivitas operasional ekspor dikendalikan oleh PT Pelindo SPMT Branch Lhokseumawe sebagai operator pelabuhan, sementara aspek keselamatan dan pengawasan lalu lintas kapal dikawal oleh KSOP Lhokseumawe melalui personel KPLP.
Di tengah meningkatnya kebutuhan energi rendah emisi di kawasan Asia Timur, Aceh mulai menempatkan diri sebagai salah satu pemasok biomassa potensial dari Indonesia bagian barat. Komoditas palm kernel shell dinilai memiliki nilai strategis karena berasal dari limbah industri sawit yang dapat diolah menjadi bahan bakar pembangkit energi ramah lingkungan.
Site Manager PT Kharisma Inti Mitra Indonesia, Antony Kumala, mengatakan ekspor ini menjadi bagian dari upaya memperluas peran Aceh dalam rantai pasok energi hijau dunia.
“Kami ingin tumbuh bersama dengan membawa potensi energi hijau Aceh ke pasar global secara berkelanjutan. Kualitas palm kernel shell asal Aceh memiliki daya saing yang baik dan mulai mendapat perhatian pasar internasional. Karena itu, kolaborasi antara pelaku usaha, pelabuhan, dan seluruh pemangku kepentingan perlu terus diperkuat agar komoditas unggulan Aceh semakin dikenal dan diminati dunia,” ujarnya.
Sementara itu, Branch Manager PT Pelindo SPMT Branch Lhokseumawe, Aulia Rahman, menegaskan kesiapan pelabuhan dalam mendukung aktivitas ekspor komoditas strategis daerah.
“Kami memastikan seluruh proses pelayanan kapal dan bongkar muat berjalan cepat, terukur, dan real time. Dukungan fasilitas operasional serta koordinasi lapangan dilakukan tanpa jeda agar kegiatan ekspor dapat berlangsung lancar dari awal hingga kapal lepas sandar. Pelabuhan harus mampu menjadi akselerator pertumbuhan ekonomi daerah,” katanya.
Dari sisi pengawasan keselamatan pelayaran, Danpos KPLP KSOP Lhokseumawe, Zulmahdi, menyebut koordinasi lintas instansi menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran aktivitas ekspor.
“Pengamanan area terminal umum, pengawasan pergerakan kapal masuk dan keluar, hingga pengendalian aspek keselamatan pelayaran dilakukan secara kolaboratif bersama tim HSSE Pelindo SPMT Lhokseumawe. Tujuannya agar seluruh aktivitas berjalan aman, tertib, dan sesuai prosedur,” ujarnya.
Secara geografis, Pelabuhan Krueng Geukueh memiliki posisi strategis karena berada di jalur perdagangan internasional Selat Malaka, salah satu koridor pelayaran tersibuk di dunia. Lokasi ini memberi keuntungan logistik bagi Aceh untuk terhubung langsung dengan pasar Asia dan kawasan internasional lainnya.
Dengan tren ekspor biomassa yang terus meningkat, Aceh dinilai memiliki peluang besar memperkuat perannya sebagai pemasok energi hijau global. Selain menciptakan aktivitas ekonomi baru di sektor pelabuhan dan logistik, pertumbuhan ekspor ini juga membuka ruang yang lebih luas bagi investasi, tenaga kerja lokal, dan pengembangan industri hilirisasi berbasis sumber daya alam berkelanjutan.
Pewarta : bung jal.
